Efek Proyeksi PLTU Batubara Di Langkat Menimbulkan Pencemaran Dampak Lingkungan, Suhu Udara, Dan Kesehatan

Efek Proyeksi PLTU Batubara Di Langkat Menimbulkan Pencemaran Dampak Lingkungan, Suhu Udara, Dan Kesehatan


MEDAN, LIPUTAN7.ID Proyeksi PLTU Batubara Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, diduga telah mencemari iklim suhu udara, dan ekosistem lingkungan,serta kesehatan para Warga Masyarakat di Pangkalan Susu. Proyeksi PLTU Batubara itu juga menimbulkan kerusakan unsur kualitas air, dan perubahan iklim suhu udara yang berakibat menimbulkan efek samping yang cukup mencemaskan terganggunya kesehatan dan pertumbuhan fisik anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar Ring 1.

Merasakan kondisi yang terjadi tersebut, Yayasan Srikandi Lestari mengagas dan menyelenggarakan diskusi dampak krisis iklim semakin mewabah,menimbulkan efek yang cukup memprihatinkan terhadap kesehatan, perkembangan pertumbuhan fisik anak-anak, serta nonton bareng film “Bara Hitam”, di Jalan Dr. Manysur, Kota Medan.

Direktur Eksekutif Yayasan Srikandi Lestari, Sumiati Surbakti, dalam kegiatan diskusi tersebut menjelaskan, bahwa 44 persen kondisi iklim akan perubahan suhu udara telah terjadi, yang efek negatifnya cukup signifikan, berakibat terganggu kesehatan warga yang berada di Wilayah lokasi sekitar PLTU Batubara, Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Perubahan kesehatan berdampak sangat buruk kepada masyarakat, sampai mengalami derita penyakit kulit yang berbahaya, hingga membuat anak-anak turut tertular penyakit tersebut, khususnya akan kondisi kesehatan perkembangan pertumbuhan fisik anak-anak.

“Kita sudah menyerukan, agar menghentikan Proyeksi Kerja PLTU Batubara yang berada di Kabupaten Langkat itu, serta menyampaikan tawaran bagian solusi yang bermanfaat dengan memperkenalkan budidaya penggunaan energi dari Tenaga Sinar Matahari (Surya), sebab budidaya energi ini sangat baik, dan efek samping terjadinya pencemaran terhadap lingkungan, suhu udara, dan makhluk pasti negatif,” jelas Sumiati Surbakti dalam diskusi serta launching Sekolah Energy Bersih untuk anak-anak yang terdampak lingkungan.

Sumiati Surbakti mengutarakan, bahwa pihaknya telah melakukan pengamatan hingga menggunakan bantuan Satelit, bahwa di lokasi PLTU Batubara itu, tidak ada memiliki Bak Penampung Abu sama sekali, yang seharusnya pihak PLTU Batubara harus menyediakan Bak Penampung Abu dalam jarak sekitar 2,5 Kilometer dari Lokasi Lingkungan Permukiman para Warga Sekitar.

“Kami sudah pastikan dengan bantuan menggunakan Satelit, bahwa di lokasi PLTU Batubara Pangkalan Susu tidak ditemukan Bak Penampung Abu, dan bila abu tersebut dikeluarkan oleh pihak PLTU, seharusnya Alat Penyaringan Abu dari perusahaan itu sudah ada difungsikan, sebab proyeksi kerja yang dilakukan PLTU ini setiap harinya mengeluarkan kadar Abu ke Udara, diperhitungkan sekitar 2,5 ton banyaknya,” sebut Sumiati Surbakti.

Selanjutnya dari Fossil Free yang diwakilkan oleh Rimba Nasution, yang juga merasakan dampak pencemaran lingkungan, dan perubahan iklim suhu udara yang terjadi dari lokasi PLTU Batubara yang berada di Kabupaten Langkat ini, sangat tragis dan menakutkan sebab, banyak kondisi kesehatan anak-anak di sekitar lokasi mengalami ganguan kesehatannya. Kondisi sekujur tubuh Anak-anak menderita terjangkiti penyakit gatal-gatal yang sangat memprihatinkan, hingga tangan para Anak-anak  untuk belajar tidak bisa menulis, akibat radiasi udara yang tercemari.

“Demi uang harus mencemari lingkungan, iklim suhu udara, dan menciptakan terganggunya kesehatan, serta timbulnya bibir penyakit diderita para Warga masyarakat, Penghuni yang ada di daerah itu. Demi uang tega merusak ekosistem alam tempat makhluk untuk hidup. Sebab proyeksi usaha yang dilakukan pihak PLTU sudah tidak manusiawi lagi, maka kasus PLTU Batubara di Pulau Sumatera ini, mulai dari Provinsi Aceh sampai Provinsi Lampung, kasusnya hampir sama,” ungkap Rimba Nasution.

Bukan hanya itu saja, jelas Rimba Nasution mengatakan, pernah merasakan turun hujan namun suasana terasa jawanya masih panas. Dampak perubahan suasana iklim suhu udara tersebut langsung dirasakan efek sampingnya, dimana meski dalam suasana hujan masih turun, suhu udara masih dirasa ada hawa panas. Dampak kondisi demikian itulah membuktikan krisis iklim terjadi, karena lingkungan alamnya benar-benar sudah tercemari.

“Mengacu akan keprihatinan timbulnya krisis iklim, dan perubahan kondisi suhu udara yang sudah tercemari di lingkungan pemukiman warga masyarakat di sekitar keberadaan PLTU Batubara itu, kita harapkan adanya kepedulian perbaikan dari Pemerintah Daerah maupun Pusat harus peduli dan harus segera membuat perlindungan, agar populasi pencemaran lingkungan, suhu udara, maupun gangguan kesehatan warga.

Apabila permohonan yang kita sampaikan tidak direspon oleh Pemerintah, kita buat aksi pembangkangan untuk tidak membayar pajak. Ruang lingkung lingkungan yang tercemari oleh PLTU Batubara itu sudah makin melebar, dan sangat berbahaya bagi kesehatan,” beber Rimba Nasution dengan tegas.

Dalam diskusi tersebut , hadir pula dari Tokoh Psikologis yang juga Dosen di Universitas Politeknik Negeri Medan, Atika mengungkapkan, bahwa isu dampak lingkungan didalam esensi isu politik, tidak terlalu penting, dan sudah tidak populer.

“Ini merupakan bagian Ekonomi ekspolistasi, siapa yang diuntungkan tentu sejumlah Elit, dan yang pasti dirugikan adalah kelompok orang ekonomi lemah,” jelas Atika dalam pemaparannya yang dihadiri dari para Aktifis Lingkungan yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

(DW/DRE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Terkait

terpopuler

Rekomendasi