Kepling Di Medan Dites Urine, Seorang Oknum Kepling Di Medan Diringkus Karena Kedapatan Menjual Sabu-Sabu

Kepling Di Medan Dites Urine, Seorang Oknum Kepling Di Medan Diringkus Karena Kedapatan Menjual Sabu-Sabu


MEDAN, LIPUTAN7.ID Terkait adanya Oknum Kepala Lingkungan (Kepling) di Kota Medan yang ditangkap Polrestabes Medan karena menjual narkoba jenis sabu-sabu mendapat sorotan tajam dari semua elemen masyarakat. Salah satunya dari Lembaga Sosial Jurnalis dan para profesi yang tergabung dalam perkumpulan Jurnalis Media Independen (JMI) Sumut.

Melalui Sekretaris JMI Sumut, T Sofy Anwar mengatakan, bahwa Walikota Medan Bobby Nasution sudah perlu melakukan kaji ulang terhadap seluruh Kepling dengan melakukan tes urine ataupun tes kewiraan sehingga ke depannya tidak ada lagi Kepling di Kota Medan yang mengonsumsi maupun menjual sabu-sabu.

“Setahu saya gaji Kepling Rp 3.000.000 Perbulan, namun anehnya kenapa bisa Kepling jadi penjual sabu, makanya sudah sepantasnya Walikota Medan lebih memperketat tes urine dan tes kewiraan buat calon kepling ke depannya,” ungkap Sofy kepada wartawan. Sabtu, (14/05/2022).

Oknum Kepling Yang Menjual Sabu-Sabu
Oknum Kepling Yang Menjual Sabu-Sabu

Sofy menambahkan, alasan tersangka menjual Narkoba karena membantu orangtua yang sedang sakit bukanlah menjadi alasan dirinya bisa bebas dari jeratan hukum dan dapat membantu dalam mengatasi persoalan ekonominya. Melainkan tindakan tersangka dapat merusak mental para generasi penerus bangsa.

“Apalagi tersangka diduga telah mengedarkan 25 gram sabu setiap bulan yang dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan terakhir,” paparnya.

Sofy yang juga selaku Pengurus di Lembaga Pemantau Kinerja Kepolisian Republik Indonesia (Polri Watch) juga memberikan apresiasi atas keberhasilan Polrestabes Medan, dalam mengungkap kasus peredaran narkoba dan menyambut baik sanksi yang diberikan berupa pemecatan terhadap oknum kepling tersebut.

“Ini langkah tepat yang diberikan Pemkot Medan terhadap bawahannya untuk memberi efek jera bagi Kepling-Kepling lainnya, agar tidak melakukan hal serupa, karena dapat dijerat dengan undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika,” tungkasnya.

(Robinsius/Dre)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Terkait

terpopuler

Rekomendasi