Terkait Dugaan Penganiayaan Oleh Oknum Aktivis PMII Terhadap Kader HMI, Kali Ini Tanggapan Datang dari Sulaisi Abdurrazaq, Advokat Jenius Sekaligus Selaku Alumni HMI

Terkait Dugaan Penganiayaan Oleh Oknum Aktivis PMII Terhadap Kader HMI, Kali Ini Tanggapan Datang dari Sulaisi Abdurrazaq, Advokat Jenius Sekaligus Selaku Alumni HMI


SUMENEP, LIPUTAN7.ID Terkait pemberitaan sebelumnya, bahwa diketahui gegara permasalahan ketersinggungan hingga menyebabkan dugaan penganiayaan oleh oknum aktivis PMII terhadap Kader HMI menuai banyak tanggapan. Kali ini tanggapan datang dari Sulaisi Abdurrazaq, advokat jenius yang sekaligus senior/alumni HMI.

 

Saat ditemui di suatu Cafe di Sumenep, Sulaisi Abdurrazaq menyampaikan, “HMI dan PMII ini kan organisasi mahasiswa Islam. Inilah bedanya organisasi mahasiswa Islam di zaman Mahbub Djunaedi dan zaman Lafran Fani. Saat ini pertikaian PMII dan HMI hanya persoalan ketersinggungan bunyi sepeda motor, kalau dulu pertikaian terjadi karena diskusi keras terkait asas. Terkait dengan tafsir terhadap manifestasi keislaman misalnya begitu,”

 

“Itu kalau dulu, kalau saat ini, soal bunyi sepeda motor aja jadi pertikaian. Kalau saya memberi pesan kepada kedua organisasi ini bahwa, pendiri PMII ini kan sebelumnya juga aktif di HMI. Pada saat Pak Mahbub Djunaidi masih aktif di HMI, begitu pula setelah menjadi Ketua Umum PB PMII, keterampilan beliau menulis di media, kolumnis. Beliau ini berwawasan, itulah yang semestinya diteladani PMII, kan begitu. Dulu beliau memberi sikap kritis atau pandangan terhadap situasi politik, sosial, ekonomi, dan budaya melalui karya, tulisan, kreatifitas. Kepiawaian beliau menurut saya saat ini harus dicontoh aktifis-aktifis PMII maupun HMI,” ungkapnya. Kamis, (15/09/2022).

 

Sulaisi, panggilan akrabnya menambahkan, Kepiawaian Bang Mahbub Djunaedi dalam menyikapi realitas sosial adalah dengan cara yang ilmiah dan akademis, bukan dengan cara preman, apalagi keroyo’kan.

 

“Jadi, saya sangat menyayangkan perilaku premanisme begitu, karena menurut saya tindakan seperti itu sama sekali tidak mencerminkan nuansa akademis, disitu sama sekali tidak tercermin spirit dari pendiri PMII. Begitu juga dengan kader HMI, dua organisasi ini justru akan bersinar bila sesama organisasi mahasiswa Islam bersatu,” paparnya.

 

“Memang, kalau masih mahasiswa baru wajar ya, masih hangat begitu. Jadi, mereka ini sama-sama mempunyai rasa memiliki terhadap organisasinya dan biasanya ada gengsi, itu biasa di awal-awal ya, tapi kalau sudah dewasa biasanya itu sudah tidak berlaku lagi, yang berlaku adalah, apa visi dari organisasi mahasiswa Islam ini, kan begitu. Baik PMII maupun HMI,” tambahnya.

 

“Saya kira, saya tidak perlu mengawal masalah adik-adik ini. Silahkan berinisiatif sendiri langkah yang bijak itu bagaimana antara sesama organisasi mahasiswa Islam, masa ia wong ini urusannya adik-adik kok alumni mau ikut terlibat di sana,” tandasnya.

 

Sulaisi melanjutkan, “maksudnya, ini kan masalahnya terlalu kecil lah untuk kita urusi, masalah antar sesama adik-adik di tingkat Komisariat, baik PMII dan HMI biar diselesaikan oleh adik-adik, mereka kan sudah terlatih untuk mencari problem solving.

 

Sulaisi berharap, “kedepan, untuk kedua organisasi mahasiswa Islam ini, baik PMII maupun HMI agar berlomba-lomba berkreasi secara intelektual-akademis yang dapat berdampak terhadap lingkungannya. Misalnya di Sumenep, ya kalau di Sumenep, apa yang perlu mereka sikapi, misalnya korupsi, kasus penegakan hukum yang menyimpang misalnya begitu, atau isu-isu pemberdayaan, baik itu pemberdayaan perempuan atau perlindungan anak, pemberdayaan ekonomi terhadap masyarakat miskin misalnya begitu,” harapnya.

 

“Nah, itu saya kira jauh lebih penting daripada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dibesar-besarkan,” jelasnya.

 

“Tetapi kalau ada dugaan tidak pidana yang berlebihan, saya kira tidak ada cara lain selain cara hukum untuk menertibkan perilaku yang menyimpang begitu, apalagi itu dilakukan secara bersama-sama misalnya, kalau itu sudah dinilai tidak wajar,” tuturnya.

 

“Tetapi, kalau ada jalan lain yang lebih bisa untuk menciptakan harmoni dan lebih mendukung agar kedua organisasi ini berlomba-lomba dalam kreatifitas intelektual-akademis, saya kira itu jauh lebih beradab dan lebih baik daripada jalan hukum,” tukasnya. (Dre)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Terkait

terpopuler

Rekomendasi