Hukum

Akui Kesalahannya, Kejari Sumenep Lakukan Restorative Juctice pada Kasus KDRT Warga Kangean

311
×

Akui Kesalahannya, Kejari Sumenep Lakukan Restorative Juctice pada Kasus KDRT Warga Kangean

Sebarkan artikel ini

SUMENEP,LIPUTAN7.ID – Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh Riki Ariyanto (24) Warga Dusun Timur RT/RW 003/003 Sumbernangka, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur atas istrinya sendiri berakhir dan selesai persoalan hukumnya melalui Restorative Justice atau RJ.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sumenep, Trimo, SH.MH dalam kesempatan itu menyampaikan, bahwa pelaku KDRT Riki Ariyanto telah mengakui kesalahannya yang telah melakukan pemukulan terhadap istrinya beberapa waktu yang lalu dan sudah meminta maaf dengan disaksikan oleh para tokoh serta keluarga pasangan suami istri tersebut.

“Perkara ini sudah dihentikan melalui penyelesaian restorative justice. Dimana pelaku sudah mengakui kesalahannya dan sudah dirapatkan bersama para tokoh agama dan tokoh masyarakat serta perwakilan keluarga kedua belah pihak. Maka mulai atas perintah atas yakni Jampidum Kejagung RI agar kami (Kejari, red) membuatkan sirat pelepasan untuk dikeluarkan dari tahanan dan dikembalikan kepada keluarganya,” ungkap Kajari Sumenep, Trimo, SH.MH, Jumat (14/6/2024) di Kantor nya.

Menurut Kajari yang sebentar lagi pindah tugas ke Kejaksaan Agung RI dengan posisi sebagai Kepala Subdirektorat Eksekusi dan Eksaminasi pada Direktorat Tindak Pidana Terhadap Tindak Pidana Terhadap Orang dan Harta Benda (Oharda) Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung itu, bahwa pelaku sudah ditahan selama kurang dari 3 bulan.

“Karena pelaku baru kali pertama ini saja melakukan kesalahan atau KDRT terhadap istrinya, dan sudah menyadari atas perbuatannya serta berjanji untuk tidak memgulangi lagi perbuatannya, maka Kejari mengambil langkah dengan memberikan pengampunan hukum melalui restorative. Dan akan kita pantau terus kalau mengulangi lagi, ya tidak ada lagi pengampunan dan akan diproses sebagaimana hukum yang berlaku” tegas Trimo.

Ditambahkan Kajari, pengambilan pengampunan hukuman bagi setiap seseorang bisa dilakukan penghentian melalui restorative justice harus memenuhi kreteria, salah satunya adalah adanya kesepakatan kedua belah pihak yang bersengketa atau bermasalah serta ancaman hukumannya di bawah 5 tahun penjara.

“Jadi ini salah satu upaya kita untuk memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan. Artinya tidak serta merta setiap masalah hukum itu diselesaikan melalui pengadilan. Namun Kejaksaan juga punya hak untuk menghentikan atau melanjutkan setiap perkara selama ada kesepakatan kedua belah pihak untuk penghentian dan ancaman hukumannya tidak di atas 5 tahun dan tidak pernag dipenjara” ungkapnya.

Sementara itu, Riki Ariyanto, pelaku KDRT atas istrinya sendiri sangat berterimakasih kepada para Jaksa di Kejaksaan Negeri Sumenep yang telah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk perkaranya diselesaikan melalui pengampunan hukum yakni restorative.

Dirinya berjanji tidak akan mengulangi kembali di kemudian hari, dan siap mengikuti nasehat Kajari Sumenep agar tidak gampang melakukan KDRT dan tetap hidup rukun dalam rumah tangga.

“Terimakasih pak Kajari, para Jaksa yang sudah memberikan saya kesempatan untuk bertaubat dan menyelesaikan perkara saya melaku restorarive justice ini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali,” ucapnya memelas.

Untuk diketahui, sejak Januari 2024 hingga Juni 2024 Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep sudah berhasil menyelesaikan perkara melakui restorative justice sebanyak 4 perkara, yang meliputi perkara KDRT dan pertengkaran. Dan perkara kali ini telah dibahas melalui rumah RJ Mandhapa Desa Pabian Kota Sumenep.