Opini

Obrolan Warkop: Duet Da-Di Diprediksi “Bercerai” di Pilkada Tuban 2024

149
×

Obrolan Warkop: Duet Da-Di Diprediksi “Bercerai” di Pilkada Tuban 2024

Sebarkan artikel ini
Ali Maskur_Redaktur Pelaksana

TUBAN,LIPUTAN7.ID – Pecah kongsi atau bercerai petahana bakal tersuguhkan dalam Pilkada Tuban 2024.

Duet Aditya Halindra Faridzky dan Riyadi menjadi bahan “rasan-rasan” publik tak akan lagi bersama-sama lagi. Pasalnya, Mas Lindra sapaanya “nyaris” tidak pernah menyebut Riyadi sebagai calon wakilnya pada Pilkada 2024.

Memang dalam politik tidak ada persahabatan ataupun permusuhan abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi. Seperti itulah yang terjadi dalam penyelenggaraan Pilkada Tuban 2024.

Melihat fenomena ini, kini suhu politik di Kabupaten Tuban kian menghangat di pinggiran kota. Pecah kongsi dua tokoh ini pun menjadi perbincangan publik hingga warung kopi.

Sang petahana, Mas Lindra dipastikan maju sebagai calon petahana, sedangkan Ketua Partai Nasdem Tuban itu masih puasa bicara atau memilih bungkam hingga saat ini.

Keputusan Mas Lindra tidak bersama dengan Riyadi juga dipengaruhi berbagai faktor yang tidak banyak dibeberkan ke publik. Selain itu, petahana diduga mencari suasana baru dengan menggandeng wakil bupati yang baru.

Ditengah ramainya perbincangan isu perpecahan antara bupati dan wakil bupati, Mas Lindra dalam setiap kesempatan mengatakan jika politik itu sangat dinamis dan sewaktu-waktu bisa berubah, bisa ia dan bisa tidak.

“Karena terbilang dinamis, saya belum bisa memastikan siapa yang akan menjadi wakil saya untuk maju pada pilkada 2024 nanti,” ujar Mas Lindra.

Terkait dengan siapa calon wakil bupati yang akan mendampingi dirinya pada pilkada 2024 ini, Mas Lindra mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada keputusan koalisi nanti. Meski begitu, Mas Lindra bilang tidak lama bakal diumumkan siapa pasanganya dalam perhelatan Pilkada mendatang.

“Yang pasti sampai hari ini wakil saya masih Pak Riyadi secara undang-undang yang sah,” imbuh Mas Lindra.

Diketahui pada pilkada lalu, Mas Lindra diusung oleh Partai Golkar sementara Riyadi diiusung oleh Partai Demokrat. Melihat pergerakan sementara Partai Demokrat telah memulai komunikasi dengan Partai Golkar dan Partai Demokrat juga menyerahkan penuh kepada Mas Lindra untuk memilih pasanganya.

Menurut analisis saya, kecil kemungkinan dua orang tersebut akan berpasangan kembali. Jika benar terjadi pecah kongsi, hal ini bisa membuka peluang bagi partai lain atau sejumlah tokoh untuk “melamar” menjadi calon wakil bupati.

Mengutip catatan Pengamat politik Firman Manan bahwa drama rivalitas yang ber­ujung dengan perpisahan bu­­kan hal baru yang dipertontonkan oleh para kepala dae­rah dan wakil kepala daerah sejak dipilih secara langsung oleh rakyat.

“Sejak awal, po­tensi ketidakcocokan sudah ada. Calon kepala daerah ti­dak bisa memilih sendiri pa­sangannya. Memasangkan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah ibarat kisah Siti Nurbaya yang ­dipaksa menikah dengan pasangan yang belum dikenal betul,” katanya.

Begitu juga, Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) Giri Ahmad Taufik menyebut bahwa perjodohan antara kepala daerah dan wakil ke­pala daerah di awal pemilih­an sering kali hanya didasar­kan pada kepentingan pragmatis dibandingkan strategis, seperti kesamaan visi mi­si, kesamaan program yang akan dijalankan.

“Jadi, perkawinan mereka lebih pada pembagian ke­kua­sa­an belaka sehingga jika terjadi ketidakcocokan atau salah satu pihak me­lang­kahi perjanjian, pembagi­an kekuasaan ini menyebab­kan perpecahan,” kata­nya.

Meski politik itu dinamis, kita sudah diingatkan ungkapan sangat terkenal yakni:

Tetap dekati kawan-kawanmu tetapi lebih dekatlah ke musuh-musuhmu (Keep Your Friends Close But Your Enemies Closer).