Sorot

Proyek Rekonstruksi Jalan di Kepulauan Mentawai Dikerjakan Asal jadi, Diduga Ada Kongkalikong

914
×

Proyek Rekonstruksi Jalan di Kepulauan Mentawai Dikerjakan Asal jadi, Diduga Ada Kongkalikong

Sebarkan artikel ini

KEPULAUAN MENTAWAI, LIPUTAN7.ID – Pengerjaan proyek Longsegment (Peningkatan/Rekonstruksi Jalan) Mapadegat – Dermaga (DAK Penguatan Destinasi Pariwisata Prioritas 2023) dikerjakan “Asal Jadi” di Kepulauan Mentawai.

Pasalnya, pengerjaan proyek tersebut selama 225 hari, dengan pengerjaan proyek dimulai sejak 3 Mei 2023. Jika dikalkulasikan, maka proyek tersebut akan berakhir pada 18 Desember 2023. Artinya pada 18 Desember ini pengerjaan proyek harus 100 persen. Tetapi faktanya, proyek diduga mencapai 40 persen.

Dari itulah, salah-satu tokoh masyarakat (Tomas) setempat menduga pelaksana tidak profesional dalam pengerjaan proyek tersebut. Atau, diduga ada permainan petak umpet antara kontraktor, konsultan pengawas, dan PPK Bidang Bina Marga PUPR Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Sementara konsultan pengawas proyek ini, adalah CV Misuda Engineering Consultants. Inilah misteri yang harus diendus oleh aparat penegak hukum (APH) kita yang konon katanya profesional,” duganya, Jumat (17/11/23).

Tomas yang ingin dirahasiakan namanya ini juga menduga, bahwa penyelenggara pembangunan yakni mulai dari Pokja ULP seperti tidak berdosa telah memilih perusahaan yang tidak kredibel untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

Sedangkan faktanya, kata dia, perusahaan yang dipilih oleh Pokja ULP tersebut tidak mampu melaksanakan pekerjaan sebagaimana waktu dalam kontrak. Selain itu, Tomas ini mengatakan, bahwa proyek diduga dikerjakan asal jadi, bahan timbunan tidak bagus, dan juga diduga tidak memiliki izin.
“Kami juga menduga ada yang janggal pada administrasi DPUPR Kepulauan Mentawai. Kendati demikian, tidak ada sanksi yang diberikan baik pemutusan kontrak, pencairan jaminan pelaksanaan dan pemasukan dalam daftar hitam,”

“Hal ini diduga kuat para pihak yang terlibat, mulai dari Pokja PPK/Pengawas/Kontraktor Pelaksana sama-sama terkontaminasi dan kongkalingkong untuk tidak mematuhi kontrak,” umbarnya.

Dia juga menduga, ada yang janggal pada pemenang tender. Yakni, yang saat ini mengerjakan proyek bukan yang memenangkan tender, melainkan membeli ke PT yang memenangkan tender.

“Menurut data yang berhasil kami himpun, ternyata yang mengerjakan proyek bukan dari yang memenangkan tender tersebut. Diduga proyek tersebut dijual ke orang lain dengan surat kuasa yang telah diaktekan ke yang mengerjakan hari ini, nah dari awal diduga sudah kongkalingkong,makanya pekerjaan diduga asal jadi ,kami ada buktinya,” singkapnya.

Disamping itu, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga sekaligus PPK DPUPR Kabupaten Kepulauan Mentawai Rifki Eriawan, tidak merespon saat dikonfirmasi. Tidak hanya itu, bahkan Rifki memblokir nomor jurnalis yang sedang menjalankan perintah undang-undang khusus untuk sebuah konfirmasi. Akibatnya, versi PPK Rifki Eriawan tidak dapat dipublikasikan oleh Liputan7.id