Sorot

Rp20 M Lebih Terkesan Abai, Penanganan Long Segment Jalan Hilifanikha Disoroti Publik

333
×

Rp20 M Lebih Terkesan Abai, Penanganan Long Segment Jalan Hilifanikha Disoroti Publik

Sebarkan artikel ini

NISEL, LIPUTAN7.ID – Penanganan Long Segmen Jalan Hilifanikha yang dimulai dari kecamatan Lolowau menuju kecamatan Hilisalawa ahe, kabupaten Nias Selatan, Sumut, terkesan abai dan diduga ada pembiaran dari pemangku kepentingan demi mengais keuntungan fantastis hingga menuai sorotan publik dan masyarakat sekitar, pada Rabu (29/11/2023).

Seorang tokoh masyarakat (FG) mengungkapkan, bahwa pembangunan tersebut milik masyarakat seutuhnya dan bukan merupakan milik pemenang tender yakni PT. Pelaksana ataupun CV. Konsultan dan kontraktor.

Masyarakat bukan hanya sekedar penonton tetapi berhak mengawasi, mengkritisi, mengontrol dan bahkan melaporkan kejanggalan dan kerusakan bangunan supaya dilakukan evaluasi dan peninjauan kembali oleh PUPR,” tegasnya.

Dijelsskan, selain parit beton dan tembok penahan tanah (TPT) yang telah rusak (ambruk) pada sejumlah titik, bestek bangunan Jembatan Locu di Desa Lolomoyo, kecamatan Lolowau, kabupaten Nias Selatan, Sumut, perlu ditinjau ulang oleh Consultan. Sebab pemasangan pondasi atau lantai jembatan lebih tinggi dari alur air sungai, dan sebaiknya dipasang TPT guna menghindari banjir dan longsor terhadap rumah warga dekat jembatan.

Perlu diketahui jikalau besi jembatan lama yang merupakan milik dan aset negara telah diangkut tanpa adanya berita acara,” ungkapnya.

Disampaikan pula oleh tokoh masyarakat (DW) bahwa pengerjaan Jembatan Locu tersebut tidak ada koordinasi sama sekali, baik secara pribadi maupun secara terbuka bahkan masyarakat dan pemuda setempat tampak tidak diberdayakan. Sementara, kontribusi mereka terhadap jembatan tersebut tidak ternilai harganya sebelum adanya pembangunan.

“Tenaga dan waktu bahkan materi dan pengorbanan lainnya terkesan tidak dihargai tanpa koordinasi sedikitpun dari kontraktor bangunan maupun pelaksana kerja,”

“Bestek jembatan perlu ditinjau ulang supaya tidak ada pihak yang merasa dirugikan, sebab dikhawatirkan rumah warga di sekitar jembatan akan jadi korban longsor ketika TPT tidak dibangun,” imbuhnya.

Kemudian, beberapa perwakilan pemuda setempat yang dikenal dengan nama Ikatan Pemuda Solid Lolomoyo (IPSL) juga ikut berkomentar terhadap tindakan pekerja yang membuat papan atau kayu milik IPSL dibuat berserakan dan bahkan rusak tanpa adanya koordinasi.

“Meskipun pengorbanan IPSL tidak seberapa nilainya dalam membenahi jembatan ini, alangkah baiknya keberadaan IPSL dihargai untuk diberdayakan dalam bekerja. Andaikan papan dan kayu kami tidak lagi dibutuhkan, sebaiknya dikembalikan dan dirapikan tanpa harus diserakkan hingga rusak,”

“Sepertinya para konsultan tidak peduli atas apa yang kami sampaikan, seolah mereka lari dari tanggung jawab dengan menghindari kami ketika hendak koordinasi atas pekerjaan yang selama ini dilakukan pada malam hari. Bahkan kami diarahkan menghadap kepada Cristian untuk mendapatkan jawaban,” tuturnya.

Pada hari yang sama, Consultan pengawas dari CV. Polo Consultan menyampaikan, bahwa semua proses kegiatan berdasarkan atas petunjuk dan instruksi dinas PU.

“Pembongkaran dan pengangkutan besi jembatan lama atas instruksi dinas PUPR dan telah disimpan sementara guna keamanan,”

“Demikian pula fisik bangunan TPT dan parit beton yang sudah rusak, akan segera diperbaiki kembali. Namun terkait pemberdayaan masyarakat untuk bekerja merupakan tugas dan urusan kontraktor. Sementara Pembangunan TPT akan sekalian dikerjakan pada pemasangan sayap jembatan,” katanya.

Penjelasan dan jawaban dari konsultan tersebut dinilai hanya sekedar alasan dan pembelaan diri sebab telah sekian lama melihat kerusakan TPT dan parit tetapi tidak dan belum dilakukan perbaikan sama sekali.

Seolah pengawasan mereka hanya sebatas monitoring tanpa tindakan dan ketegasan bahkan terkesan abai dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pengawasan.